turtle day in tcec

tcec serangan
turtle drawing by elementary school children

 Bali - late post from May 23, 2016 on celebration turtle day in Turtle Conservation Education Center ( TCEC ) Serangan, Bali. it  were celebrating by kind of competition suck as photo competition open for public, drawing competition by school of elementary. all celebration propose to close turtle conservation with children and public, and campaign to stop illegal trading

 

Turtle Conservation And EducationThe Center( TCEC) opened by the governors of Bali, Mr Dewa Beratha (20 January 2006) On Serangan island of Bali .TCEC is developed as part of the Comprehensive strategy to eradicate illegal turtle trading on the island .Established on a land of 2.4 ha, the TCEC is trying to support the community of Serangan to  find the alternative beside illegal turtle business. The center harness the potential education, tourism, conservation and research with a liberal sprinkling of business to give endangered turtles one more chance on Serangan. TCEC is supported by WWF, Governor Bali, the major of Denpasar, municipality authorities, the Provincial Nature Resource Conservation Agency and the local community.

The four fundamental aspects to the center including putting a definitive end to turtle trade, by encouraging the public not to consume the turtle products (religious use or otherwise) and to support turtle Conservation in general; providing turtles for rituals without their killing and monitoring turtle size and number, so that their use can be strictly controlled and regulated; offering employment opportunities for locasl from Serangan; and finally acting as watchdog for turtle trade - in Serangan in particular and Bali in general.

tcec serangan
sarehan hari penyu di TCEC

Perdagangan penyu di Bali    kembali Marak, Fungsi TCEC Diperkuat

BALI darurat perdagangan penyu. Betapa tidak? Dalam waktu 1,5 bulan terakhir setidaknya terdapat empat kasus penggagalan penyelundupan 124 ekor penyu hijau ke Bali oleh penegak hukum.

Pada 6 April 2016, Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair) Polda Bali berhasil menggagalkan penyelundupan 45 penyu hijau di perairan Kubu-Karangasem. Penyu diselundupkan untuk
tujuan perdagangan dan konsumsi.

 

Kemudian pada 16 April 2016, Tim gabungan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan di Kendari dan Bitung bersama Satuan Polisi Air Polda Sulawesi Tenggara mengagalkan upaya penyelundupan 70 ekor penyu hijau. Puluhan satwa langka yang dilindungi itu ditemukan dalam sebuah kapal di Desa Padei, Pulau Menui, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah yang rencananya akan diselundupkan ke Bali.

 

Baru-baru ini, setidaknya ada delapan penyu disita oleh Ditpolair Bali dari masyarakat. Penyu itu dipelihara tanpa izin dengan alasan ekowisata. Selain itu, Ditpolair Bali juga menemukan satu ekor penyu Hijau diselundupkan disebuah kapal kosong di Pelabuhan Benoa 19 Mei 2016 lalu.

 

Tiga dari empat kasus tersebut telah dilakukan penitipan barang bukti berupa penyu Hijau di Turtle Conservation and Education Center (TCEC) guna mendapatkan perawatan medis sebelum kembali dilepaskan ke laut dan beberapa ekor masih dititipkan di TCEC sebagai barang bukti persidangan.

 

Dari sederatan kasus eksploitasi dan perdagangan penyu itu menggerakkan TCEC dan  sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Kelautan Universitas Udayana Bali yang peduli akan konservasi penyu dengan melakukan kampanye dijalan yang dipusatkan didaerah Renon, untuk penyadartahuan publik.

 

Memanfaatkan momentum “World Turtle Day 2016” yang diperingati setiap tanggal 23 Mei maka sebagai bentuk aksi nyata bagi Konservasi Penyu di Bali, TCEC dan Mahasiswa Universitas Udayana juga turut menyelenggarakan kegiatan edukasi siswa untuk cinta dan peduli terhadap penyu melalui kegiatan lomba menggambar dan mewarnai, lomba fotografi, aksi bersih pantai peneluran penyu di Desa Serangan yang diikuti oleh pelajar SD, SMP, SMA dan panti asuhan binaan Bali Surf Project. Kegiatan ini diharapkan dapat mengedukasi siswa sejak dini agar peduli terhadap kelestarian Penyu dan tidak membeli produk-produk yang berasal dari penyu.

Selain itu serangkaian aksi lainnya untuk memperkuat TCEC Serangan dalam mendukung penegak hukum, manajeman authorithy, akademisi dan budaya/ adat di Bali maka dilakukan pula mini-workshop di TCEC Serangan yang dihadiri berbagai instansi, seperti BKSDA Bali, Ditpolair Bali, BPSPL Denpasar, Dinas Kelautan Perikanan, Dinas Pariwisata, Polsek, Babinkamtibmas, tokoh masyarakat, nelayan, pemuda desa Serangan dan Fakultas Kelautan dan Perikanan serta Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali. "Mini-workshop ini bertujuan membangun jejaring mitra TCEC dan memperkuat komitmen parapihak dalam upaya menghentikan perdagangan penyu di Bali," ujar drh. Maulid Dio Suhendro salah satu panitia penyelenggara.

 

I Made Sukanta, perwakilan masyarakat pengelola TCEC menambahkan dalam workshop ini dihadiri berbagai lembaga yang konsen terhadap konservasi penyu. "Dalam workshop ini, selain untuk saling menyatukan konsep antar lembaga dan instansi tentang konservasi penyu, juga untuk membangun networking yang kuat dan sekaligus mendorong TCEC sebagai lembaga konservasi penyu ," katanya.

 

Sukanta menambahkan, saat didirikan tahun 2006 oleh IB Windia Adnyana dari WWF Indonesia, TCEC bertujuan untuk menyediakan penyu bagi keperluan ritual keagamaan di Bali, sekaligus sebagai salah satu strategi untuk menanggulangi penangkapan penyu betina produktif di alam.

 

Seiring perjalanan waktu, TCEC mampu bertahan dan  berperan mendukung aspek pendidikan, ekonomi serta ekologi berupa penanganan terhadap sarang-sarang telur penyu yang terancam, rehabilitasi penyu yang terdampar, tertangkap tidak sengaja oleh nelayan maupun hasil tangkapan kepolisian dari perdagangan illegal.

 

“Untuk menjalankan semua fungsi tersebut TCEC tidak dapat jalan sendiri, perlu dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak,” terangnya.

 

Diakui I Made Sukanta, selama ini bentuk kerjasama yang dilakukan antar lembaga masih bersifat informal, karena kesepakatan yang ada sebelumnya sudah kadaluarsa dan perlu diperbaharui. Maka dalam pada momentum ini perlu dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama (PKS) antara masing-masing pihak, terutama BKSDA Bali dan BPSPL Denpasar sebagai manajemen authorithy terhadap spesies penyu, sehingga keberadaan TCEC menjadi lebih kuat dalam menjalankan fungsinya baik dalam mendukung adat, pendidikan, konservasi maupun penegakan hukum.

 

“PR kami tinggal membangun PKS berikutnya dengan PHDI Bali, Ditpolair Polda Bali serta Universitas Udayana, semoga dalam waktu dekat dapat terlaksana” ungkap Sukanta.

 

Sementara itu Kepala BPSPL Denpasar, Suko Wardono mendukung langkah TCEC sebagai lembaga konservasi penyu yang memiliki legalitas, SDM dan fasilitas yang memadai. Untuk itu BPSPL Denpasar telah memberikan dukungan berupa legalitas PKS, bantuan tenaga enumerator dan rencana pembangunan klinik penyu sebagai media bagi Dokter Hewan TCEC dan Volunteer untuk dapat melakukan perawatan medis terhadap penyu yang sakit. Dengan demikian peranan TCEC akan semakin kuat dalam mendukung upaya konservasi penyu sesuai tujuan pemerintah dalam mendirikan TCEC.

 

 

“Sebagai unit pelaksana teknis, BPSPL Denpasar berkomitmen melaksanakan UU perikanan, UU Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan UU Kelautan dalam konservasi jenis ikan termasuk penyu. Konservasi penyu sangat strategi bagi pemerintah indonesia krn sebagai ikan yg bermigrasi melintasi banyak negara, wilayah perairan kita merupakan habitat utama peneluran penyu, dan lokasi pencarian makan. Komitmen dan dukungan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, kelompok

 

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

  1. Drh. Windia Adnyana, Ph.D (Pembina TCEC)

Hp. 08123828010, email : adnyanawindia@gmail.com

  1. I Made Sukanta (Pengelola TCEC) :

           Hp. 081353212227, email : info.tcec@gmail.com

  1. Drh. Mauliddio Suhendro (Koordinator Mahasiswa/Panitia)

           Hp.  08234034113 email : mauliddiosuhendro@gmail.com

  1. Suko Wardono (Kepala BPSPL Denpasar)

Telp. 0361-4794821, Fax. 0361-4794822, email : bpspl.denpasar@kkp.go.id

 

Write a comment

Comments: 36